Kenapa guru suka ngasih PR?
Kenapa, kenapa? Lha coba ditanyakan pada guru masing-masing, apakah itu termasuk hobi atau kebiasaan? Padahal, dengan begitu kan menambah pekerjaan mengkoreksi beliau sendiri. Trus, kenapa guru-guru masih juga mau menyengsarakan diri sendiri dan orang lain?? Sebagai mahasiswa yang terus-terusan kena PR saya menderita!
Di perkuliahan yang sekarang saya jalani, setiap mata kuliah selalu memberikan PR dosis tinggi menurut saya. Entahlah buat mahasiswa lain yang otaknya masih segar mungkin ini tak seberapa, tapi saya selalu kuwalahan. Apa karena saya udah terlalu tua ya, haha langsung deh ketawa ngakak kalau ingat umur. Hiburannya adalah, tidak harus mengerjakan semua PR itu.
Sehubungan dengan cita-cita saya sebagai guru matematika, saya mencoba melihat dari sudut pandang beliau-beliau ini. Apakah yang akan saya lakukan kalau saya di posisi mereka? Ahaha… mungkin saya akan balas dendam dengan memberi PR lebih buuanyak lagi! Ya ampuuun… segeralah bertobat sebelum terlambat. Guru capek mengajar, murid capek belajar, tentu semua ini karena ada sesuatu yang dituju. Saya harap sesuatu itu adalah sesuatu yang besar dan bernilai, biar semua jerih payah tidak menjadi sia-sia.
10 tahun yang akan datang (ini dalam bayangan saya lho), murid-murid SMP bertanya kepada saya, “Bu guru, kenapa PRnya banyak sekali? Setiap minggu kami harus mengerjakan 100 soal, ini bukan pembelajaran tapi penyiksaan!” Lalu saya pun terkejut, “Lho siapa yang suruh kalian mengerjakan 100 soal?” Mereka pun ikut terkejut, “Lho, kan Ibu yang ngasih minggu lalu?” Oh, saya tahu di mana letak masalahnya. Saya ajak mereka melihat lagi aturan mengerjakan PR berikut ini: ‘Kerjakan sebaik mungkin, pilihlah soal setinggi mungkin untuk mengetahui berapa tinggi kemampuanmu. Untuk lolos sensor, kerjakan sedikitnya 10 soal dengan benar.’ “Oooh… iya lupa!” begitu teriak mereka lega. Saya pun lega, hahaha!
Ya, 10 tahun yang akan datang (sekali lagi, ini mimpi di siang bolong), saya ingin memberikan semacam ‘PR fleksibel’ kepada murid-murid saya. Seumpama saya sediakan 100 soal, itu karena untuk memudahkan mereka menemukan hal-hal mana yang sudah mereka pahami dan mana yang belum. Saya akan katakan begini pada mereka: Kalau soal 1a memang terlalu mudah ya tidak perlu membuang waktu berkutat di no 1b-1j, langsung saja ke no 2. Begitu pula kalau 2a terlalu mudah langsung saja lompat ke no 3 dan begitu seterusnya.
Pada saat kamu menemukan soal itu tidak lagi mudah, cobalah kerjakan lagi soal yang sejenis dalam nomor yang sama. Saya akan menyediakan cukup banyak soal setipe untuk melatihnya, kerjakan sebanyak mungkin sampai kamu merasa mengenali tipe masalah itu. Sebagian murid mungkin akan menemukannya mulai soal nomor 5, atau 6, atau sebagian lagi baru menemukan kesulitan di nomor 10? Karena saya percaya kemampuan tiap orang tidak selalu sama.
Dengan demikian, murid-murid yang lemah bisa berlatih dengan baik menguatkan pondasi, sedangkan murid-murid yang lebih mampu tidak perlu terlalu bosan harus mengerjakan soal gampang yang gitu-gitu aja.
Oke, sekarang kembali ke dunia nyata. Saya mau ngerjain PR dulu ya… selamat berakhir pekan 
Komentar