Skripsi Epd. 01 (PTS)


Judul tulisan ini, jika kawan mau tahu, sudah 3 bulan lalu di status FB-ku. Mungkin sedikit terlihat naif, tapi itulah aku, senang sekali berkutat dengan cobaan maha berat sampai berhasil melampaui batas-batas realitas. Disokong oleh super ego yang aku miliki, maka aku ini tipe orang yang keras kepala, tak mudah melepas begitu saja apa yang telah lamat-lamat aku yakini. Walaupun pada akhirnya aku pun akan tahu, bahwa aku ini, tidak lebih dari seorang pangeran yang merindukan bulan. Kata orang dulu ini idealisme. Ya, kata orang dulu. Di zaman edan ini paham idealisme tidak lebih baik dari khayalan orang sakit jiwa! Ah, sudahlah.. Pembahasan mengenai idealisme silakan kawan cari tahu sendiri. Aku tak mau ribut-ribut soal pemahaman dan keyakinan. Aku tak mau menelanjangi kebenaran.
Aku ini, paling tidak menurutku sendiri, adalah lelaki yang berikhtiar untuk berbuat baik, patuh pada petuah orangtua, sejak dulu (kadang saja). Maka, dalam setiap keputusan yang aku tetapkan, larinya tak jauh dari ‘membahagiakan orangtua’, demikian pula halnya dengan apa yang sedang aku jalani saat ini, skripsi. Perlu kawan ketahui, kampusku adalah salah satu almamater yang menjunjung tinggi kebijaksanaan*(percaya saja ya). Jadi jika ada mahasiswanya yang ‘berhalangan’ untuk menyusun skripsi, maka mahasiswa beruntung tersebut dapat lulus dan wisuda dengan mengikuti paket ujian yang telah disediakan. Tapi buatku, skripsi nomor satu. Kenapa? Ya, karena menurutku menulis skripsi adalah suatu tanggung jawab seorang intelektual muda. Skripsi adalah karya pribadi, hasil dari penelitian yang jauh dari main-main. Tujuannya? Jelas untuk pengabdian pada masyarakat. Maka aku, yang masih berpredikat sebagai mahasiswa, terlepas dari beban-beban moral yang sering dikaitkan, entah itu “agent of change” atau apa lah,  punya tanggung jawab besar dalam pembangunan bangsa ini, sekecil apa pun bentuknya.
Selaras dengan judul yang dipajang beberapa waktu lalu, agaknya selama itu pula setan-setan galau memantau. Tidur tak nyenyak, makan pun tak enak. Dada sesak, kembang kempis persis katak. Tak jauh beda dengan orang yang kena santet! Pada tahap ini aku hampir benar-benar ambruk. Padahal permasalahannya terletak pada satu hal sederhana, menentukan judul. Tapi, semua orang tahu, segala sesuatu itu tergantung niatnya. Maka judul skripsi adalah niat. Mau dijadikan apa penulisan ini, untuk apa, dan apakah manfaatnya dapat dirasa. Semua berkecamuk, hilir mudik, mondar mandir, jungkir balik dalam sebuah labirin ketidakpastian. Bahkan untuk menentukan dosen pembimbing pun aku tak berdaya, begitu banyak orang pintar (dalam artian sebenarnya) disini. Dan dengan segala pertimbangan teknis dan psikis akhirnya aku mendapatkan DR. ZUL AMRI, M.Si Tragis!. Beliau adalah dosen tamu yang berasal dari PTN dimana saya juga berkuliah disitu.
Seperti dugaanku, seperti ulat bulu, tiba-tiba aku diserang banyak pertanyaan. Dosen yang seharusnya di blacklist dalam daftar calon dosen pembimbing itu malah aku hitamkan. Ada yang memuji tapi tak sedikit yang membuat sangsi. Pasalnya dosen satu ini dikenal “sulit”. Kebiasaannya lain dari yang lain. Maka beliau adalah dosen yang menjunjung tinggi nilai-nilai kebebasan. Terlebih untuk pemilihan judul dan metode, anti pintu belakang. Aku sudah tahu ini, dan aku akan menerimanya sebagai resiko alami. Dan aku pun nantinya akan tahu pula, bahwa skripsi yang akan aku jalani akan berbeda dengan orang kebanyakan, baik dari sisi topik sampai isi pendukung untuk penulisan. 
Mengikuti aturan dan perintahnya adalah jalan yang paling aman untuk menyelesaikan tahap demi tahap penyusunan skripsi ini. Kadang dicuekin, kadang dipersulit dalam penulisan namun dengan memikirkan kondisi saya yang membutuhkan beliau mau tak mau ya hrus mau lha. Alhamdulillah dalam waktu 2 bulan dari seminar proposal saya dapat menyelesaikan skripsi berikut dengan ACC dan layak untuk sidang.
Namun ketika maju sidang skripsi terkendala dengan akriditas Jurusan yang saya ambil, dengar cerita dari teman  teman ternyata akriditas kami telah lama mati dan tidak diperpanjang lagi. Hal ini lha yang menyebabkan kendala saya untuk maju sesegera mungkin karena kampus yang saya jalani satunya lagi sudah mengharuskan saya untuk PPLT diluar kota. Akibat ini terpecahlah pikiran dan konsentrasi dalam penyelesaian studi.
Satu bulan menunggu kabar untuk sidang akhirnya datang juga, untuk sementara saya cuti dengan waktu 3 hari untuk pulang ke Medan dan mengurus penyelesaian studi dan ini juga berkat sahabat  sahabat saya yang telah duluan mendaftarkan saya sidang. Di Medan saya hanya tinggal konsentrasi untuk menguasai skripsi.
Tiba tanggal 22 September 2011 jam 10.00 WIB. Dari depan kedengaran nama saya dipanggil, dengan suasana yang tak terbayangkan, keringat gugup pun berkeluaran, namun dukungan teman sesama sidang yang terrakhir dalam benak ku "kamu bisa kok chan, Ayo semangat...". Yang pertama saya hadapi DR. ZUL AMRI, beliau hanya berkata pada saya bahwa skripsi kamu dah cukup bagus, lanjutkan pendidikan di PTN itu dan langsung lanjutkanlah pendidikan kamu dijenjang yang lebih tinggi. Pulang dari sini terima kasih pada orang tua, saudara - saudara, pacar, sahabat dan teman - teman kamu ya. Sekitar 15 menit saya mendengarkan masukan dan cerita beliau, namun tumben bagi saya beliau tak berkomentar lama. Namun mungkin ini lah akibat dari kesabaran saya selama ini dalam waktu penuyusunan skripsi.
Saatnya untuk yudisium. Yudisium ini adalah pengumuman dan pengesahan kita menjadi seorang sarjana. Kami yang sidang dihari itu berjumlah 15 orang dan dinyatakan lulus dan mendapatkan predikat Sangat Memuaskan dengan Nilai skripsi tertinggi 96 jatuh kepada saya.
Selesai sidang tinggal menunggu tahap pendaftaran wisuda. Namun tragis kembali saya alami saat itu. Kami yang bersidang mulai tanggal 15 september tidak diwisuda karena berbagai alasan. Namun kami yang namanya mahasiswa tak putus asa, mulai melobi pembantu dekan, dekan sampai Rektor pun tak mampu memberi kami kepastian untuk wisuda pada periode pertama. Sekitar 56 0rang kami merasa dikecewakan dan dalam bentuk protes kami membuat surat ketidak percayaan pada pihak kampus untuk menyelenggarakan pendidikan dilingkungan PTS ini.
Waktu terus berjalan dan akhirnya sekarang bulan januari 2012 dan saat ini juga saya akan menjalankan skripsi Epd 02 di Kampus PTN saya. Doakan agar lancar dan tak Tragis kembali untuk kedua kalinya.

Komentar