Inilah Bisnis Seks ABG Medan
Medan, Tribun - Praktik prostitusi yang melibatkan anak baru gede (ABG) di Medan tergolong besar dan berani. Selain melibatkan ABG dalam jumlah massif, yakni sekitar 2.000 ABG (Tribun, 12/1), praktik bisnis seks ini juga dilakukan saat jam belajar.
Berdasarkan penelitian Direktur Eksekutif Pusat Kajian dan Perlindungan Anak (PKPA), Ahmad Sofian, dan penelusuran tim Tribun di lapangan, bisnis nyata dan terorganisir.Ahmad mengatakan praktik prostitusi pelajar di Medan berlangsung saat jam pelajaran sekolah.
Modusnya, para siswi itu meminta izin pulang lebih cepat, dan melakukan praktik terselubung tersebut bersama tubang (akronim dari tua bangka, penikmat seks ABG) di luar sekolah.
''Ini tugas dinas pendidikan. Bagaimana mungkin guru tidak bisa mengontrol, ini kan aneh. Terkecuali praktiknya malam hari, baru tanggung jawab orangtua,'' ujar Sofian saat ditemui Tribun, di Kantor PKPA Medan, Pasar Satu, Setia Budi, Medan, Rabu (12/1).
Dosen Fakultas Hukum UMSU ini mengatakan para siswa yang terlibat prostitusi ini juga mengadakan negosiasi saat jam pelajaran sekolah.PKPA Medan dalam buku Eksploitasi Seks Komersil Anak (ESKA) di Indonesia, yang diterbitkan Koalisi Nasional Penghapusan Eksploitasi Seks Komersil Anak, menyebutkan para siswi yang terlibat praktik seks komersial itu juga menggunakan modus lain, meminta temannya menghubungi orangtuanya untuk menginformasikan mereka ke kolam renang atau jalan-jalan bersama. Padahal mereka dibawa tubang ke hotel, sepulang sekolah.
PKPA Medan melansir 2.000 anak, termasuk pelajar SLTA dan SLTP terjebak dalam bisnis prostitusi. Data ini diperoleh dalam penelitian PKPA 2008 hingga 2011.
Jumlah responden mencapai 200 pelajar. Dari mereka ditanyakan siapa saja teman-temannya yang terjebak dalam bisnis prostitusi tersebut, tanpa menyebutkan nama.
"Kalau dipersentasekan 75 persen pelajar sudah terjerumus dunia prostitusi.
Sisanya yang drop out dari sekolah. Ada juga yang tidak menikmati bangku sekolah dari SD hingga SLTA. Rinciannya 45 persen pelajar SLTA dan 30 persen SLTP," katanya. Dari 50 responden, ditemukan 45 anak sebagai korban prostitusi anak, lima anak korban perdagangan anak untuk tujuan seksual.
Hal yang paling mengejutkan adalah temuan banyaknya anak-anak sekolah yang telah terjerumus ESKA dan terlibat transaksi seks dengan para tebe atau tubang, sebutan bagi para pelanggan mereka.
Dari 50 responden yang berhasil diwawancarai secara mendalam, 41 di antaranya berstatus pelajar. Sebanyak lima di antaranya siswi SMP, 26 pelajar SMA/SMK (tiga tercatat telah putus pada saat menempuh jenjang pendidikan SMA).
Seorang responden yang berstatus siswi kelas III SMP pada satu SMP swasta Medan, mengatakan, di kelasnya, ada tiga temannya melakukan prostitusi.
Mami. Bahkan menurut penuturan Siska (juga nama samaran) siswi kelas II SMA di Medan, di kelasnya sudah mencapai 10-15 orang siswi.
Dalam beberapa kasus yang ditemukan, ada sindikasi. Misalnya, pada kasus siswi satu SMAN favorit di Medan, yang membeberkan, di Jalan Mahkamah, seorang ibu rumah tangga (mami) telah membangun semacam home industry bisnis seks di kalangan pelajar. Ia mengendalikan bisnisnya dari rumahnya. Mami memiliki banyak kontak tubang dari dalam dan luar Medan.
Puluhan ABG bisa disediakan. Para pelajar yang membutuhkan uang, cukup menghubungi dia, maka dia tinggal call dan negosiasi.Tribun berupaya mewawancarai seorang siswi yang diketahui melakukan praktik prostitusi, tadi malam.
Namun siswi itu, bersedia dan malah memanggil dua teman prianya untuk mengintimidasi Tribun.''Mau mati, ya, buat ribut di kampung orang,'' ujarnya menunjukkan nada suara meninggi.
Sang siswi menerima Tribun di rumah orangtuanya. Ia sempat mengaku orangtuanya tak mengetahui bila ia adalah adalah pekerja seks komersial (PSK).
Sofian mewanti-wanti jika pihak sekolah tetap mengacuhkan kondisi ini, jumlah pelajar yang nyambi prostusi meningkat sekitar 30 persen.
"Kalau hanya mengharapkan pengawasan orangtua, manalah cukup. Yang bisa mengenali gejala-gejala siswa yang terkena prostitusi itu guru," katanya.Ia mengatakan pelajar yang nyambi PSK ini, bukan hanya dari kalangan miskin, banyak juga yang dari ekonomi menengah dan atas. Malah ini menjadi gaya hidup bagi mereka.
''Sedangkan konsumen mereka kebanyakan berumur 35 ke atas dan kebanyakan pria bermobil. Tarif yang dikenakan sekitar Rp 400 ribu hingga Rp 800 ribu di luar belanja permintaan,'' katanya.
Lokasi Transaksi
Sofian menyebut lokasi transaksi prostitusi anak di Medan banyak terjadi di tempat-tempat biliar, taman bermain Gajah Mada, pusat-pusat perbelanjaan, kafe-kafe, kos-kosan seperti Jl Pintu Air Ujung yang dihuni oleh PSK muda yang rata-rata putus sekolah, dan di warkop-warkop (warung -warung sejenis kafe di jalan).
Ia menuding maraknya hiburan malam yang tidak melarang anak di bawah umur untuk masuk juga berperan membantu peningkatan prostitusi pelajar.
Juga, hotel tidak pernah melarang pelanggan yang membawa wanita di bawah umur ke dalam kamar tanpa menanyakan terlebih dahulu surat-surat pendukung seperti surat nikah dan kartu keluarga.
Ini mendukung pertumbuhan hotel di Padangbulan, Polonia, dan Pancurbatu.
''Selain itu, aparat penegak hukum dalam menangani persoalan ini. Kebanyakan penegak menganggap bahwa perbuatan itu dilakukan atas suka sama suka, padahal setiap perbuatan seperti itu kepada anak di bawah umur merupakan perbuatan pencabulan,'' katanya.
Sofian menawarkan ke depan, PKPA menawarkan program pelatihan kepada guru-guru untuk mengenali siswa-siswa yang sudah terjebak dalam bisnis prostitusi.
''Itu pun kalau sekolah dan dinas pendidikan mau. Baru 10 sekolah yang sudah dilakukan program pencegahan dan pengenalan anak terlibat prostitusi,'' katanya.
Salahkan PKPA
Meski data yang diperoleh PKPA melalui penelitian resmi, Kadis Pendidikan Kota Medan, Hasan Basri, menilai data pelajar Medan yang nyambi PSK belum bisa dipertanggungjawabkan. Dalihnya, ia belum melihat hasil riset tersebut.
"Saya sangat kecewa pada PKPA yang melakukan publikasi. Seharusnya mereka (PKPA) menyampaikan ini kepada dinas terkait untuk mencari solusinya, bukan hanya menyampaikan hasilnya. Yang terpentingkan dicari dulu akar masalahnya baru dipublikasikan," ujarnya.
Hasan mengatakan jika hasil riset tersebut, maka yang paling bertanggung jawab dalam hal ini adalah keluarga siswa. Kalau pendidikan agama dan moral sudah tuntas diberikan di rumah maka sekolah akan mudah dalam menangani dan melakukan pemantauan. Tapi kalau tidak dilakukan di rumah, maka pihak sekolah tidak akan mampu.
Ia mengatakan dinas pendidikan melalui sekolah sudah mencanangkan program pengetahuan seks sejak dini melalui mata pelajaran biologi dan penjaskes.
Tujuannya agar siswa tidak terjerumus dalam seks bebas dan mengetahui risiko apabila melakukannya.
Meski demikian, Hasan berjanji pihaknya akan meningkatkan razia terhadap siswa yang berkeliaran di jam sekolah. Sekolah juga akan melarang siswa menggunakan ponsel canggih.
''Apabila ada siswa yang kedapatan maka akan dipanggil orang tuanya dan untuk kedua kalinya handphone tersebut akan disita dan dirazia apakah ada film porno di dalamnya,'' ujarnya.Menurutnya, setiap siswa yang terlibat prostitusi tidak akan dipecat tetapi akan diproses secara hukum.
''Setiap siswa yang sudah terjebak harus dilakukan pembinaan. Apalagi jangan sampai terjadi asumsi perawan tidak perawan tidak masalah yang penting cinta. Kita inikan memiliki budaya timur jadi perawan itu harus dijaga. Ke depan, kami akan bekerja sama sebuah lembaga untuk melakukan riset kebenaran data tersebut,'' katanya.(bey/dra)
Komentar