Belajar akan keyataan Ku
Hari ini, saya beserta keluarga mungkin tengah menghadapi ujian akan rasa ikhlas dan pasrah, apa persoalannya mungkin teman-teman tidak perlu tahu daripada saya nanti dikatakan sombong dan arogan. Tidak pernah semudah mengatakannya, itu yang saya rasakan. Begitu banyak keinginan, nafsu dan rencana yang berputar di otak saya, begitu besar impian dan khayalan saya untuk mewujudkan hingga akhirnya semua bermuara pada satu titik, hanya waktu yang akan berbicara banyak.
Dikarenakan di pundak saya tiada pangkat yang tersemat untuk mengambil keputusan, yang bisa saya lakukan saat ini hanyalah mencoba untuk bersabar melihat jarum-jarum jam yang berpindah. Meski dalam otak sekian puluh alasan yang menguatkan keinginan untuk mewujudkan, namun saya hanyalah bagian yang terpilih bukan yang memilih. Masalah ini bukan masalah hidup dan mati atau dilema hidup lainnya hingga sebenarnya mungkin bagi orang lain hal ini tidak perlu terlalu sengit diperdebatkan namun sebagai manusia hidup yang masih menginginkan materi, jujur ini cukup mengganggu mata saya untuk terpejam.
Pembelajaran tentang ikhlas dan pasrah bila dijadikan tulisan hidup mungkin dapat menjadi chapter tersendiri, hingga saat tulisan ini saya terbitkan dalam hati saya masih ada percikan-percikan keinginan dan pembenaran, berusaha untuk menjadi Tuhan bagi diri sendiri dengan mengatakan hal itu akan terjadi seperti dengan yang saya inginkan hingga dalam doa pun saya serasa memaksakan agar Tuhan mengabulkan. Mencoba untuk menenangkan diri dalam gelap hanyalah membuat khayalan semakin menjadi-jadi akhirnya satu-satunya pembelajaran yang saya bisa lakukan saat ini hanyalah curhat dengan anak saya, memang dia masih terlalu kecil untuk mengerti bahkan mungkin dia tidak menyimak apa yang saya utarakan, namun yang saya pelajari darinya adalah matanya yang begitu menerima, tidak ada prasangka dan curiga, tidak ada rasa untuk ingin memanfaatkan, tidak ada sorot menghakimi. Mata ikhlas yang sesungguhnya
Dikarenakan di pundak saya tiada pangkat yang tersemat untuk mengambil keputusan, yang bisa saya lakukan saat ini hanyalah mencoba untuk bersabar melihat jarum-jarum jam yang berpindah. Meski dalam otak sekian puluh alasan yang menguatkan keinginan untuk mewujudkan, namun saya hanyalah bagian yang terpilih bukan yang memilih. Masalah ini bukan masalah hidup dan mati atau dilema hidup lainnya hingga sebenarnya mungkin bagi orang lain hal ini tidak perlu terlalu sengit diperdebatkan namun sebagai manusia hidup yang masih menginginkan materi, jujur ini cukup mengganggu mata saya untuk terpejam.
Pembelajaran tentang ikhlas dan pasrah bila dijadikan tulisan hidup mungkin dapat menjadi chapter tersendiri, hingga saat tulisan ini saya terbitkan dalam hati saya masih ada percikan-percikan keinginan dan pembenaran, berusaha untuk menjadi Tuhan bagi diri sendiri dengan mengatakan hal itu akan terjadi seperti dengan yang saya inginkan hingga dalam doa pun saya serasa memaksakan agar Tuhan mengabulkan. Mencoba untuk menenangkan diri dalam gelap hanyalah membuat khayalan semakin menjadi-jadi akhirnya satu-satunya pembelajaran yang saya bisa lakukan saat ini hanyalah curhat dengan anak saya, memang dia masih terlalu kecil untuk mengerti bahkan mungkin dia tidak menyimak apa yang saya utarakan, namun yang saya pelajari darinya adalah matanya yang begitu menerima, tidak ada prasangka dan curiga, tidak ada rasa untuk ingin memanfaatkan, tidak ada sorot menghakimi. Mata ikhlas yang sesungguhnya
Komentar