Kabar Baru dari Teluk

Para Istri Sheik Mulai Berani Muncul di Publik



DOHA – Istri Sheik, muslim konservatif itu berjalan menuju podium sebuah ruang pesta hotel mewah, dan muncul di tengah kerumunan pebisnis paling kaya. Sheika Mozah bint Nasser al-Missned masih mengenakan jubah dan kerudung hitam tradisional. Namun, ia mulai mengambil peran yang tidak tradisional dengan mengerahkan para lelaki untuk mendukung gagasan pendanaan US$ 100 juta untuk menangani masalah pengangguran.
Seperti mitranya di Dubai, Putri Haya yang lulusan Oxford, Mozah mengambil model istri-istri Barat– menjadi aktivis, berkancah global dan terlibat urusan publik. Ini merupakan perubahan signifikan di kawasan yang tak biasa memperlihatkan istri para penguasa, dan bahkan nama mereka pun tidak diketahui. Maklumlah, para emir dan raja di kawasan Teluk memiliki banyak istri, bahkan ada yang lebih dari empat sebagaimana diizinkan dalam agama Islam.
Kemunculan para istri kalangan atas dalam panggung publik merupakan bagian dari ledakan ekonomi negara-negara Teluk yang kian setara dengan Barat saat mereka mencari investasi dan pengaruh politik, atau bahkan nama besar dalam acara seperti Olimpiade. Ini juga jelas menjadi persaingan di antara perempuan kalangan atas Timur Tengah, seperti Ratu Rania dari Yordania.
Dalam tahun-tahun belakangan ini, Qatar, sebagaimana negara kecil Arab lainnya di Teluk Persia, telah beralih dari gurun menjadi pusat keuangan dan media. Derek pembangunan pencakar langit kini menjadi tampak padat di tempat yang dulu pernah begitu tandus di kaki langit Doha, markas stasiun televisi satelit berbahasa Arab Al-Jazeera.
Mozah, yang diyakini berusia 40-an, menjadi bintang dalam transformasi itu. Ia merupakan salah satu istri Sheik Hamad bin Khalifa Al Thani dan menjadi satu-satunya yang muncul di hadapan publik.
Perannya yang paling terkemuka adalah menjadi Ketua Qatar Foundation, yang meluncurkan Kota Pendidikan, dengan kampus 1.012 hektare di luar Doha dan lokasi cabang universitas terkenal Amerika, seperti Carnegie Mellon dan Georgetown.

Mozah dengan cepat menjadi pesaing Ratu Rania dalam kancah global. Ia memberikan sambutan di lembaga-lembaga di Amerika Serikat dan Eropa. Tahun lalu, ia masuk dalam daftar 100 perempuan paling berpengaruh di dunia versi Majalah Forbes. Meski di tanah airnya ia tetap mengenakan jubah panjang tradisional dan di Barat ia memakai busana bisnis yang modis.
“Tidak ada keluarga kerajaan Teluk yang melakukan seperti yang Mozah lakukan. Ia mematahkan seluruh kendala budaya dan membentuk citra perempuan yang sepenuhnya modern, penuh percaya diri, dan tanpa kekhwatiran. Strategi Mozah merupakan bagian dari tujuan suaminya menempatkan Qatar di peta dunia,” kata Rima Sabban, sosiolog berbasis di Dubai.
Di kota yang gemerlap Dubai, Putri Haya juga melanggar aturan--memberikan sambutan mengenai kesejahteraan publik, bekerja untuk proyek publik, tampil di majalah, muncul di websites dan berkeliling dunia. Dubai meraih pengaruh politik signifikan di kawasan melalui perkawinan di tahun 2004 penguasa berpengaruh Sheik Mohammed bin Rashid Al Maktoum dengan Haya (34), putri mendiang Raja Hussein dari Yordania.
Seperti Mozah, Haya mengambil peran publik, termasuk menjadi Ketua Dubai International Humanitarian City, sebuah badan amal Barat dan Islam. Haya bahkan menembus batas tradisional lebih jauh. Ia jarang menggunakan kerudung dan menyukai olahraga, sesuatu yang jarang di kawasan yang didominasi kaum lelaki itu. Ia mewakili Yordania dalam cabang menunggang kuda halang rintang di Olimpiade Sydney 2000. Bahkan, ia memiliki izin mengemudi truk, yang diperolehnya di Yordania untuk mengangkut kuda-kudanya.
Di Emirates, kaum perempuan merupakan 22,4 persen dari angkatan kerja dan di Qatar 32 persen, menurut statistik pemerintah. Namun, sulit juga mengetahui berapa banyak perempuan asing dari jumlah itu.
Tujuh puluh tujuh persen mahasiswa di UAE adalah perempuan, menurut Kementerian Pendidikan dan Tenaga Kerja. Tiga perempat mahasiswa yang tamat dari Qatar University tahun ini adalah perempuan. Kuwait baru-baru ini memberikan para perempuan hak untuk memilih dan dipilih, dan ada beberapa perempuan yang menjadi menteri kabinet. Meski begitu tidak ada perempuan yang terpilih untuk menjadi anggota parlemen.
“Ini adalah efek domino. Keberhasilan di satu negara telah menular ke negara lain di wilayah itu. Ketika seorang penguasa dalam satu negara menunjuk perempuan untuk posisi tinggi, yang lain mengikuti. Ini persaingan yang sehat karena setiap orang ingin menunjukkan bahwa mereka demokratis,” kata Rola Dashti, seorang ekonom Kuwait yang mencalonkan diri menjadi anggota parlemen.
Toh, tidak semua negara di kawasan ingin berubah. Saudi Arabia, yang merupakan kubu konservatif, tetap menyembunyikan istri-istri kerajaan dan tetap menjadi satu-satunya negara di Timur Tengah yang melarang perempuan memilih, kecuali untuk dewan pemilihan perdagangan di dua kota. Tak ada perempuan yang duduk di kabinet kerajaan, dan perempuan tidak boleh mengemudi atau bepergian tanpa izin dari seorang pria penjaga.
Mozah “telah menantang tradisi yang membatasi perempuan di wilayah rumah tangga,” kata Fawzia, seorang mahasiswa dari universitas Qatari. Ia menambahkan bahwa Mozah telah memungkinkan perempuan memiliki “peran dalam masyarakat dan juga tetap menjadi seorang istri dan seorang ibu."
(ap/ega)







Copyright © Sinar Harapan 2008

Komentar