Layanan Telekomunikasi Seharusnya Freemium Bukan Premium
KOMPAS/ARYO WISANGGENI G
Seorang warga Desa Rinding Allo, Limbong, Luwu Utara, Sulawesi Selatan, memanfaatkan jaringan Telkomsel yang baru dipasang di desa itu.
Jumat, 12 Desember 2008 | 22:16 WIB
BANDUNG, JUMAT - Seiring makin pesatnya perkembangan teknologi telekomunikasi dan pasar yang terus meningkat, layanan telekomunikasi seharusnya makin terjangkau. Pelanggan dari kalangan atas hingga masyarakat tingkat bawah mendapat alternatif mengakses bentuk layanan sesuai kebutuhannya tanpa dibatasi syarat-syarat yang sulit dijangkau.
"Untuk ke depannya teknologi komunikasi di Indonesia harus freemium bukan lagi premium," ujar Head of Marketing PT Ericsson Indonesia Kusuma Lienandjaja dalam media workshop di Hotel Mansion, Kota Parahyangan, Bandung Barat, Jumat (12/12). Layanan fremium yang dimaksud Kusuma adalah menekan ongkos produksi serendah-rendahnya untuk mendapatkan hasil sebaik-baiknya. Dalam koridor ini, layanan tetap menguntungkan operator sebagai penyelenggara layanan sementara pelanggan puas.
Hal tersebut dapat dilakukan ke depan jika platform telekomunikasi seluruhnya telah berbasis IP (Internet Protocol). Operasional layanan berbasis IP sangat efisien dan sederhana karena operator hanya butuh menyediakan jalur yang lebar dalam hal ini bandwidth dan dapat menggunakan untuk mengirimkan komunikasi apapun. Hal tersebut dapat menekan biaya produksi dan ujung-ujungnya layanan yang murah dan terjangkau.
Layanan freemium diyakini Kusuma tidak akan mengurangi potensi pendapatan bagi operator. Pelanggan kelas ekonomis terjangkau sementara pelanggan menengah ke atas yang relatif tak terlalu mempertimbangkan harga akan mendapat manfaat lebih.
"Di beberapa kota besar di Indonesia user bisa mengeluarkan 100-750 ribu dalam sebulan untuk pulsa telepon seluler dan ini adalah pasar yang menjanjikan," ujar Kusuma. Meski demikian kualitas layanan berbasis IP sangat ditentukan besar bandwidth. Setelah teknologi 3G yang sanggup memberikan akses hingga 2,4 Mbps, ke depan sudah dipersiapkan infrastruktur LTE (long term evolution) yang sanggup melakukan transfer hingga ratusan Mbps.
Seiring kesiapan operator menerapkan LTE, Kusuma memprediksi pengguna 3G masih terus berkembang. Pelanggan telekomunikasi juga makin bertambah dengan pengguna sim card aktif dan pasif saat ini sudah mencapai 140 juta.
"Namun yang absolute people itu hanya sekitar 60 juta, karena setiap orang di Indonesia ada yang memiliki lebih dari satu sim card," ujar Kusuma. Perkiraan tersebut merupakan hasil survei Ericsson Indonesia yang dilakukan di sejumlah kota besar pada sejumlah operator GSM yang menjadi mitranya.
Di sisi lain kesiapan masyarakat menyambut datangnya layanan berbasis IP ditandai dengan makin maraknya pengguna layanan web 2.0 di Internet sebagai Facebook, Youtube, Friendster, dan sejenisnya. Produksi handheld antara tahun 2000-2006 juga naik 29 persen dan pasaran PC diprediksi mencapai 14 juta unit di Indonesia pada tahun 2010. Artinya saat teknologi siap, pasar telah ada dan siap menyambut.
Ia mengakui layanan freemium sudah tercemin dalam layanan voice. Jika pada tahun 2006 Indonesia masih masuk di jajaran negara dengan tarif telekomunikasi termahal, saat ini sudah masuk ke kelompok tarif termurah.
"Dulu biaya telekomunikasi Rp1500 per menit, sekarang ada yang Rp1 per menit antaroperator," ujarnya. Bandingkan tarif di Sierra Leone, salah satu negara Afirka yang tarif voice masih Rp17.812 per menit dan SMS di meksiko yang masih 6.042 untuk sekali kirim.
Seorang warga Desa Rinding Allo, Limbong, Luwu Utara, Sulawesi Selatan, memanfaatkan jaringan Telkomsel yang baru dipasang di desa itu.
Jumat, 12 Desember 2008 | 22:16 WIB
BANDUNG, JUMAT - Seiring makin pesatnya perkembangan teknologi telekomunikasi dan pasar yang terus meningkat, layanan telekomunikasi seharusnya makin terjangkau. Pelanggan dari kalangan atas hingga masyarakat tingkat bawah mendapat alternatif mengakses bentuk layanan sesuai kebutuhannya tanpa dibatasi syarat-syarat yang sulit dijangkau.
"Untuk ke depannya teknologi komunikasi di Indonesia harus freemium bukan lagi premium," ujar Head of Marketing PT Ericsson Indonesia Kusuma Lienandjaja dalam media workshop di Hotel Mansion, Kota Parahyangan, Bandung Barat, Jumat (12/12). Layanan fremium yang dimaksud Kusuma adalah menekan ongkos produksi serendah-rendahnya untuk mendapatkan hasil sebaik-baiknya. Dalam koridor ini, layanan tetap menguntungkan operator sebagai penyelenggara layanan sementara pelanggan puas.
Hal tersebut dapat dilakukan ke depan jika platform telekomunikasi seluruhnya telah berbasis IP (Internet Protocol). Operasional layanan berbasis IP sangat efisien dan sederhana karena operator hanya butuh menyediakan jalur yang lebar dalam hal ini bandwidth dan dapat menggunakan untuk mengirimkan komunikasi apapun. Hal tersebut dapat menekan biaya produksi dan ujung-ujungnya layanan yang murah dan terjangkau.
Layanan freemium diyakini Kusuma tidak akan mengurangi potensi pendapatan bagi operator. Pelanggan kelas ekonomis terjangkau sementara pelanggan menengah ke atas yang relatif tak terlalu mempertimbangkan harga akan mendapat manfaat lebih.
"Di beberapa kota besar di Indonesia user bisa mengeluarkan 100-750 ribu dalam sebulan untuk pulsa telepon seluler dan ini adalah pasar yang menjanjikan," ujar Kusuma. Meski demikian kualitas layanan berbasis IP sangat ditentukan besar bandwidth. Setelah teknologi 3G yang sanggup memberikan akses hingga 2,4 Mbps, ke depan sudah dipersiapkan infrastruktur LTE (long term evolution) yang sanggup melakukan transfer hingga ratusan Mbps.
Seiring kesiapan operator menerapkan LTE, Kusuma memprediksi pengguna 3G masih terus berkembang. Pelanggan telekomunikasi juga makin bertambah dengan pengguna sim card aktif dan pasif saat ini sudah mencapai 140 juta.
"Namun yang absolute people itu hanya sekitar 60 juta, karena setiap orang di Indonesia ada yang memiliki lebih dari satu sim card," ujar Kusuma. Perkiraan tersebut merupakan hasil survei Ericsson Indonesia yang dilakukan di sejumlah kota besar pada sejumlah operator GSM yang menjadi mitranya.
Di sisi lain kesiapan masyarakat menyambut datangnya layanan berbasis IP ditandai dengan makin maraknya pengguna layanan web 2.0 di Internet sebagai Facebook, Youtube, Friendster, dan sejenisnya. Produksi handheld antara tahun 2000-2006 juga naik 29 persen dan pasaran PC diprediksi mencapai 14 juta unit di Indonesia pada tahun 2010. Artinya saat teknologi siap, pasar telah ada dan siap menyambut.
Ia mengakui layanan freemium sudah tercemin dalam layanan voice. Jika pada tahun 2006 Indonesia masih masuk di jajaran negara dengan tarif telekomunikasi termahal, saat ini sudah masuk ke kelompok tarif termurah.
"Dulu biaya telekomunikasi Rp1500 per menit, sekarang ada yang Rp1 per menit antaroperator," ujarnya. Bandingkan tarif di Sierra Leone, salah satu negara Afirka yang tarif voice masih Rp17.812 per menit dan SMS di meksiko yang masih 6.042 untuk sekali kirim.
Komentar